Langsung ke konten utama

Nugas Bonek


Banyak banget pengalaman yang nggak bisa dilupakan dalam hidupku. Pengalaman pertama maupun petualangan dengan sejuta pelajaran. Salah satunya bakal aku ceritakan di sini. Sebuah kisah petualangan nekat anak-anak rumahan yang jarang main jauh.

Seperti yang terlihat di judul, Nugas Bonek. Tahu kan bonek itu akronim dari bondho nekat? Ya, petualangan ini berawal dari tugas kuliah. Tugasnya adalah membuat video tour guide berbahasa Jepang di tempat wisata. Aku, Yuliana, Ari, dan Kharisma sengaja memilih lokasi yang sekiranya selain bisa nugas juga bisa jalan-jalan. Mohon maklum, kami anak kos yang kurang piknik. Berhari-hari berpikir, akhirnya kami berempat sepakat menugas di tempat wisata yang ada di Malang, berbekal fakta bahwa di antara kami sudah ada yang pernah ke Malang. Salah satunya adalah aku.

Masalah datang, kami nggak punya uang banyak untuk pergi dan masalah kendaraan. Alhamdulillah, berkat tanya sana-sini, tanya kerabat dan teman, akhirnya kami nekat berangkat. Simak keseruan ke-bonek-an kami!

7 Desember 2017, kami berangkat dari Surabaya naik kereta sore hari dengan kedatangan di Stasiun Malang pukul 21.00 WIB. For your information, ini pertama kalinya aku naik kereta api! Woaaaa! Senang sekali! Rasanya lebih enak naik kereta daripada naik bus. Tapi nggak enaknya kalau kereta harus beli tiket dulu dan terjadwal. Kalau bus, enaknya terserah kapan mau berangkatnya.

Sesampainya di Stasiun Malang, rencana awal kami mau menginap di stasiun. Namun, karena situasi gelap dan kami berempat cewek semua, tidak memungkinkan kami untuk ngemper di stasiun. Mau nyari masjid juga susah. Akhirnya kami putuskan untuk nyari makan dulu. Setelah makan, akhirnya nemu jalan keluar. Kami menginap di rumah budhenya temanku. Alhamdulillah, ada bala bantuan. Nginap geratis. Meski kena marah bapak-bapak mobil online karena kami nunggunya di tempat yang tidak seharusnya (aturan penjemputan mobil online di daerah stasiun) dan kami nggak tahu jalan Malang, akhirnya bisa tidur nyenyak.

8 Desember 2017. Kami melanjutkan perjalanan pagi-pagi. Kali ini saatnya menugas. Destinasi pertama adalah Kampung Warna-Warni Jodipan. Perjalanan memakai mobil online lancar tanpa hambatan, begitu pula waktu menugas di lokasi. Setelah itu kami mengisi perut yang sudah keroncongan di warung makan pinggir jalan nggak jauh dari Kampung Warna-warni Jodipan yang harganya lumayan murah. Murah banget malah. Kenyang banget.



Setelah kenyang, lanjut deh ke destinasi selanjutnya, yaitu Museum Brawijaya. Lagi-lagi pakai mobil online. Kali ini bapak driver-nya asik. Nggak kaku. Saat di museum ini, aku tertarik sama satu bangunan yang ada di depan museum. Ada di seberang jalan tepatnya. Perpustakaan Malang! Tapi sayang aku nggak ke sana.

Habis main ke museum dan istirahat, kemudian kami bingung, malam ini kami menginap di mana? Kalang kabut deh karena kami belum planning untuk menginap di mana. Tanya saudara, tanya teman, akhirnya kami mendapat penginapan di daerah Kota Malang. Tenang deh!

Destinasi tugas berlanjut ke Candi Badut. Saat sampai di candi, lokasi sepi dan pagarnya ditutup. Ada satu turis yang juga ingin ke lokasi, namun karena pagar pintu masuknya dikunci, ia pergi. Karena ini destinasi terakhir hari itu, kami pun memutuskan menunggu penjaganya datang. Kami mencari musola untuk shalat ashar dan istirahat. Kami pun menemukan Sekolah Dasar yang di bagian depannya ada musolanya. Satu jam kemudian, kami berjalan kembali ke lokasi. Alhamdulillah, pagarnya terbuka. Kami pun masuk dan menulis buku tamu. Gratis kok masuknya. Di sana selain shooting video, kami lebih banyak foto-foto dan istirahat. Hahaha banyak istirahatnya! Lebih tepatnya sih mainan gawai.

Kami juga melihat ada orang yang ibadah di Candi Badut. Aku sempat malu dan segera turun dari Candi Badut ketika mengetahui orang tersebut naik dan masuk candi tanpa alas kaki. Alas kakinya dilepas. Candi ini digunakan untuk ibadah ternyata, aku kok dengan lancangnya naik-naik dan foto-foto tanpa melepas alas kaki. Maafkan saya!



Sore hari! Kami pun pulang ke penginapan. Hmm penginapannya cukup asri, tapi karena yang punya penginapan memelihara kucing, jadinya ada bau-bau kotoran kucing. Aku agak "suker", bahasa Jawa-nya gitu. Nggak tahan dan nggak betah, bahasa Indonesianya. Kamar mandinya di luar kamar, dan ada di pojokan penginapan. Gelap pula. Hmmm kami nggak berani malam-malam ke kamar mandi.

Sehabis isya, kami jalan-jalan sebentar di sekitar penginapan. Membeli makanan dan camilan untuk bekal melanjutkan trip kecil-kecilan dan nekat kami. Nggak lama, kami balik lagi ke penginapan. Malam harinya, teman kami 2 orang datang. Mereka besok ikut trip nekat.

Hehehe aku kasih tahu, kami pesan hanya 2 kamar. Satu kamar kami tempati 5 anak cewek, satunya lagi ditempati si cowok. Menjelang tidur, kami ribut-ribut. Satu kasur pasti nggak muat buat 5 orang doong. Akhirnya kami gotong kasur yang ada di kamar teman kami yang cowok itu. Hehehe tega emang, dia akhirnya tidur beralas karpet yang lumayan tebal. Tapi yang namanya Malang, pasti dingin. Belum lagi nyamuk.

Pagi harinya kami siap-siap dari pagi-pagi banget. Berangkat ke lokasi kunjungan berikutnya ke Museum Musik Indonesia. Ternyata museumnya itu ada di sebuah gedung yang mirip theater gitu. Banyak koleksi CD yang ada tali hitamnya, piring hitam dan alat pemutarnya juga ada, berbagai alat musik, hingga buku-buku tentang musik. Macam-macam. Setelah mengambil video di museum, kami lanjut ke lokasi berikutnya, Pemandian Ken Dedes yang ada di Kecamatan Singosari.

Perjalanan ke Singosari ternyata penuh drama. Karena jauh dari kota, bapak driver-nya nggak mau ngantar sampai ke Singosari, padahal dia sudah pick up kami. Alasannya mau ngantar seseorang juga. Hmmm kalau menurut kami sih karena jauh dan pasti jalannya macet.

Kami pun diturunkan di masjid di suatu universitas swasta. Masih di daerah kota. Untung kami nggak disuruh bayar ongkos. Hehehe

Di tempat itu, karena lapar dan belum sarapan, kami pun membeli Soto. Wennaak tenaaan! Mood kembali sempurna dan makin semangat setelah uring-uringan sama driver yang tadi.

Setelah shalat dhuhur di masjid, kami lanjutkan perjalanan ke Singosari. Alhamdulillah dapat driver yang sabar dan pengertian. Kami pun sampai dengan selamat. Tapi, ...

Kami sampai di lokasi hampir pukul setengah 5 sore. Karena Pemandian Ken Dedes buka sampai pukul 5 saja, akhirnya kami ngebut mengambil video. Syukur pengambilan video lancar. Kami pun keluar pemandian pukul 5 sore lebih.

Perjalanan kami setelah dari pemandian cukup melegakan dan lucu. Kami akan menginap di rumah budheku. Karena menurutku jalan dari Pemandian Ken Dedes menuju rumah budhe nggak jauh, bisa jalan kaki ke sana, mengingat kami mahasiswa yang sering jalan kaki berangkat ke kampus. Tapi ternyata jauh. Belum lagi kami bawa barang yang lumayan banyak.

Di rumah budhe, kami istirahat santai-santai. Kami bergurau dan bercengkerama ria. Nyantai kayak di pantai karena "nugas"nya selesai.

Pagi harinya, kami nyantai-nyantai lagi dooong. Eh enggak deh. Kami mengedit video yang kami ambil saat di tempat wisata untuk segera dikumpulkan besoknya. Hari ini, Minggu 10 Desember 2017, pukul 5 sore harus sudah berada di stasiun Singosari. Kami harus segera pulang. Karena besok hari Senin, kami ada kuliah.

Sungguh-sungguh, ternyata keretanya telat datang. Baru pukul 5 lebih 15 menit baru tiba. Dan, kami yang dalam kondisi capek, agak uring-uringan pas di kereta. Kami memang dapat tiket yang berdiri. Karena capek, jadi agak uring-uringan. Hihihi apalagi ini pertama kali aku naik kereta.

Perjalanan dan trip kecil yang aslinya kegiatan nugas 3 hari 3 malam, jadi pengalaman bonek yang menyenangkan. Nggak tahu jalan dan nggak tahu kebiasaan Malang jadi kesan tersendiri kepada kami anak kos yang jarang piknik. Dan sebenarnya "nugas bonek" ini sebagai apresiasi diri karena tanggal 4-6 Desember 2017 sebelumnya kami telah sukses di seminar proposal skripsi. Senengnyaa! Pengalaman ini akan jadi pengalaman tak terlupakan.

Btw, foto trip nugas bonek di Malang ini ada banyak, tapi ada dilaptop. Berhubung laptopnya dibawa adek PSG, maka pakai foto yang ada di handphone.

Komentar

  1. wah asik banget yah pengalamannya, bisa tour gitu bareng teman-teman kampus, berarti sekarang kk udah diwisuda kan?

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mau Travelling? Cek Dulu Apakah 5 Benda Ini Sudah Ada di Tas Kamu

Siapa yang suka travelling? Atau sedang akan travelling? Bingung sama barang yang harus dibawa? Atau sedang kebanyakan barang bawaan?
Mungkin kalian menemukan jawabannya di sini!


Aku bukan orang yang suka travelling, tapi sosok orang yang ketika kemana-mana nggak akan bawa banyak barang. Ya kali mau travelling kayak mau pindahan rumah. Di artikel ini, aku mau bagi-bagi tips and trick berdasarkan pengalamanku untuk kamu yang mau travelling atau berpergian. Check this out!

Pertama-tama, sebelum aku kasih tips and trick-nya, aku mau kasih tahu kalau selain barang bawaan, kalian harus memakai pakaian yang nyaman dan lengkap, mulai dari baju, jaket, celana, hingga sepatu beserta kaus kaki. Kemudian, inilah 5 benda yang harus kamu bawa ketika travelling ala Afifah si anak rumahan yang jarang travelling.

Uang

Jaman sekarang apa-apa butuh uang. Dikit-dikit uang, begini dikit keluar uang. Yups, uang ini nanti juga berhubungan dengan hal-hal atau benda-benda yang kalian butuhkan ketika travellin…

Selamat Tahun Baru 2019!

Selamat Tahun Baru! Telat nggak sih? Ah, bodo amat! Apa sih makna tahun baru buat kalian? Tahun baru, bertepatan dengan liburan. Selain bertepatan dengan liburan akhir tahun, juga liburan sekolah pastinya. Tahun baru itu liburan.  Ya enggak, lah! Usia sudah berkepala dua, selain berpikir tentang liburan, juga harus mikir masa depan. Bukan masa depan yang jauh, esok hari pun juga harus dipikir. Mulai dari sekarang! Kalau bukan sekarang, kapan lagi? Jadi, liburan bukan berarti bebas mau ngapain aja, masih harus tetap peduli dengan bagaimana mengatur waktu dan menatap masa depan. Tahun baru itu semacam—ya ‘baru’, banyak hal yang baru termasuk target dan semangat. Target baru dan semangat baru untuk menjalani hari-hari ke depan setelah belajar dari tahun-tahun sebelumnya. Mengingat 2018 yang begitu penuh kejutan dan penuh warna, membuat aku tersenyum dan bersyukur. Banyak hal yang aku dapat dan aku tidak menganggap yang hilang adalah kehilangan. Aku lebih mementingkan hal yang aku dapat. Mulai …

Member of Gerakan One Week One Book (part 1)

Hai! Aku Afifah, member dari Komunitas Gerakan One Week One Book atau OWOB.


Suka membaca? Punya target baca? Ikut komunitas baca? Mau menantang diri?

Membaca itu layaknya makan. Cara makan yang menyenangkan. Caraku melarikan diri dari dunia nyata. Semenjak aku suka menghayal dan masuk ke dunia fiksi, aku jadi semakin suka membaca fiksi. Sehingga kesukaanku satu ini membuatku mempunyai kegemaran yang masuk di list kehidupan nyataku. Hobi membaca. Dan, sampai saat aku menulis tulisan ini, aku sudah membaca puluhan buku fiksi. Sejauh ini masih fiksi, semoga ke depannya aku bisa menamatkan bacaan non-fiksi.

Aku orang yang tipe rajin—kalau difasilitasi. Males banget nggak sih aku ini. SMP kelas 1, aku rajin banget baca karena sering ke perpustakaan sekolah. Karena efek ganti kelas tiap kenaikan kelas, aku jadi punya teman baru dan hobinya bukan membaca, kesukaanku dengan membaca-pun berkurang, sampai lulus SMP. Kemudian, SMA aku agak-agak rajin ke perpustakaan, paling enggak satu semester …